Media Sosial dan Teknologi. Etika dan stigma penggunaan-nya
21 - 08 -2023, Campus of Future Harmony
Pada pagi hari di awal pertemuan dari mata pelajaran etika profesi, Bu Katarina selaku dosen yang mengisi jam pelajaran kami menjelaskan bagaimana sebuah teknologi dapat menjadi bagian dari keseharian kita.
Sudah tidak bisa kita sanggah lagi bahwa tanpa teknologi, kehidupan umat manusia hari ini seakan tidak berjalan. Mau dari kendaraan, pencahayaan, pembangkit sumber daya, proyek2 pembangunan hingga hal kecil seperti memangkas rambut semuanya menggunakan teknologi. Dalam hal ini yang akan kita bahas lebih lanjut adalah Media Sosial.
Dari bangun pagi sampai ke pagi di esok hari tentulah kita tidak bisa menghitung berapa jam yang kita habiskan untuk berkecimpung di media sosial. Berbicara tentang media sosial tentu saja tidak hanya mengenai platform2 besar seperti Instagram, Twitter maupun Facebook, namun juga sms dan telepon yang terdapat di semua ponsel. Dengan teknologi yang secanggih itu semua orang tidak perlu lagi pergi jauh2 ke negeri seberang untuk berbicara dengan sosok tersayang, ataupun membeli tiket mahal untuk menonton pertunjukan idaman, karena semua itu sudah terselsaikan dengan telepon seluler dan tontonan daring. Sayangnya, dengan teknologi yang secanggih ini, kita malah bertemu dengan masalah baru, penipuan dan pemerasan model baru.
Banyak kita jumpai pesan yang menjebak menggunakan hadiah sebagai embel2 penipuan, maupun panggilan darurat membutuhkan biaya dari nomor tak dikenal, yang mana dari pertama kali ponsel seluler tersebar di masyarakat Indonesia hingga peralihannya menjadi ponsel cerdas, hal2 seperti ini tidaklah berubah. Bahkan semakin canggih teknologi, semakin canggih pula penipuannya. Sekarang penipuan sudah mulai merambah ke E-Commerce, One-tap document dan jasa2 pembayaran online lainnya, yang mana korban bisa rugi dengan jumlah uang yang tidak bisa dibilang kecil.
Dilansir dari halaman Indonesia Baik, Microsoft mengumumkan tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang tahun 2020. Mengejutkannya, warganet Indonesia menduduki peringkat terbawah se Asia Tenggara, yang tentunya, hal tersebut bukanlah pencapaian positif yang harus dibanggakan. Maraknya cyberbullying maupun etika ber-internet yang kurang baik berdampak sangat buruk bagi sebagian orang. Tentunya dari hal2 tersebut akan menimbulkan berbagai tekanan mental bagi pihak yang mendapatinya, hingga paling parah bisa menyebabkan seseorang untuk bunuh diri.
Saya sendiri jarang2 mendapati penipuan seperti diatas, tentunya kita harus bisa menggunakan teknologi dengan cerdas. Dan untuk masalah cyberbullying tentunya tidak bisa kita kontrol karena berasal dari pihak asing dan bisa jadi kebanyakan merupakan fake account, jadi hendaknya kita mengevaluasi diri sendiri saja.
Harapan saya, masyarakat lebih sadar dengan etika ber-media sosial, dan pemerintah turut mempertimbangkan masalah ini, agar kedepannya kita bisa berfokus untuk menyelesaikan masalah2 lainnya.
Sekian, Terima Kasih.


Komentar
Posting Komentar